GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com – Para petani di Kabupaten Gunungkidul mulai menyiapkan bibit kacang tanah sebagai bagian dari persiapan musim tanam berikutnya setelah panen padi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian, khususnya tanaman palawija, Senin (26/01/2026).
Di wilayah Gunungkidul bagian selatan, tepatnya Kapanewon Rongkop, petani menerapkan metode tanam tumpangsari. Dalam satu hamparan lahan, petani menanam berbagai jenis tanaman secara bersamaan, seperti padi, jagung, ketela pohon, dan kacang tanah.
Pada awal musim tanam, petani terlebih dahulu menebar bibit padi. Di sela-sela tanaman padi tersebut, ditanam jagung dan ketela pohon, serta sebagian lahan disisihkan untuk menanam kacang tanah yang akan dijadikan bibit. Pola ini dinilai efektif untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan dan menekan risiko gagal panen.
Urutan panen dimulai dari jagung, kemudian dilanjutkan panen padi. Setelah panen padi selesai, kacang tanah yang telah tumbuh dipanen dan kembali ditanam untuk produksi berikutnya. Tahap akhir panen adalah ketela pohon atau singkong.
Hasil panen singkong sebagian diolah menjadi gaplek dengan cara dikupas dan dikeringkan. Sebagian hasil panen dijual, sementara sisanya disimpan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga sebagai cadangan pangan hingga memasuki masa panen selanjutnya.
Pola tanam tumpangsari ini, menjadi salah satu strategi petani Gunungkidul dalam menjaga ketahanan pangan dan pendapatan di tengah kondisi lahan yang didominasi tadah hujan.
(Red/pupung)


Social Plugin