Memuat postingan...

Ada Apa di Balik Pindahnya Kader? Sejumlah Pemegang KTA PSI Gunungkidul Berlabuh ke NasDem

GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com — Perpindahan sejumlah kader yang sebelumnya mengantongi Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke Partai NasDem Gunungkidul mulai memunculkan pertanyaan: ada apa di balik keputusan tersebut?


Sejumlah orang yang mengaku sebagai anggota PSI dari 10 kapanewon di Kabupaten Gunungkidul secara terbuka menyatakan bergabung dengan Partai NasDem, Minggu (23/08/2026) sore.


Keputusan tersebut tidak sekadar menjadi perpindahan keanggotaan. Para mantan kader PSI itu menyebut adanya kekecewaan terhadap dinamika internal kepengurusan PSI Gunungkidul yang mereka nilai tidak memberikan perlakuan sebagaimana mestinya.


Salah satu anggota PSI, R. Sukisno, mengatakan keputusan pindah partai diambil bersama sejumlah rekannya setelah mereka merasa kecewa dengan kondisi internal PSI.


“Kami bersama teman-teman dari 10 Kapanewon di Kabupaten Gunungkidul yang telah resmi ber-KTA PSI menyatakan sikap masuk Partai NasDem. Alasannya ialah, kami merasa dikhianati oleh pengurus PSI yang notabene merupakan anak-anak muda semua,” jelas Sukisno.


Sukisno mengungkapkan, dirinya bersama sejumlah rekannya selama ini ikut terlibat dalam pengorganisasian dan upaya pemenangan PSI di tingkat wilayah.


Ia bahkan mengklaim telah ikut membantu proses sehingga PSI dapat masuk dalam daftar peserta Pemilu di Gunungkidul selama dua periode.


Namun, menurut Sukisno, persoalan mulai muncul ketika dirinya yang sebelumnya dipercaya sebagai koordinator kecamatan (Korcam) justru diminta turun menjadi koordinator dusun (Kordus).


“Dua periode kami meloloskan Partai PSI untuk masuk ke daftar Pemilu Gunungkidul. Kami juga yang merupakan Korcam malah disuruh turun pangkat sebagai Kordus. Ini yang menurut kami tidak adil,” ujarnya.


Bagi Sukisno dan rekan-rekannya, perubahan posisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang memperkuat kekecewaan mereka terhadap internal partai.


Selain persoalan struktur, Sukisno juga menyinggung adanya pernyataan salah satu pengurus PSI yang menurutnya ditujukan kepada dirinya dan sejumlah rekannya. Pernyataan tersebut dinilai tidak pantas dan merugikan.


Kekecewaan itulah yang kemudian mendorong mereka mengambil keputusan untuk mencari ruang politik baru. Setelah menyatakan keluar dan bergabung dengan Partai NasDem, Sukisno menyebut NasDem sebagai rumah politik yang dianggap lebih sesuai bagi dirinya bersama rekan-rekannya.


Ia juga menyampaikan optimismenya terhadap kepemimpinan Ketua DPD Partai NasDem Gunungkidul, Suharno.


Sukisno mengaku, mendengar kabar mengenai kemungkinan Suharno maju sebagai calon Bupati Gunungkidul pada Pilkada mendatang.


“Kami mendengar kabar jika Suharno akan mencalonkan diri sebagai Bupati Gunungkidul pada Pilkada mendatang. Saya yakin, Suharno akan menang,” ungkapnya.


Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perpindahan kader tidak hanya berkaitan dengan persoalan internal partai sebelumnya, tetapi juga mulai diarahkan pada pilihan politik dan figur yang dinilai memiliki prospek ke depan.


Sementara itu, Ketua DPD Partai NasDem Gunungkidul, Suharno, menyambut baik kedatangan sejumlah anggota yang sebelumnya bergabung dengan PSI. Dalam kesempatan tersebut, Suharno secara simbolis memberikan seragam Partai NasDem kepada para anggota yang menyatakan bergabung.


Suharno menegaskan bahwa Partai NasDem terbuka bagi masyarakat yang ingin bergabung. Namun, ia mengingatkan bahwa proses perpindahan partai harus dilakukan secara tertib, termasuk menyelesaikan status keanggotaan di partai sebelumnya.


“Semua partai politik itu baik. Saya tidak melarang mereka merapat ke kami. Namun apabila masih ber-KTA partai lain, saya harap untuk segera dikembalikan,” tegas Suharno.


Menurutnya, masuknya sejumlah mantan anggota PSI diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan organisasi Partai NasDem di Gunungkidul.


Ia juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi, kebersamaan, serta etika dalam menjalankan aktivitas politik di tengah masyarakat.


Bukan Sekadar Pindah Seragam

Peristiwa ini menarik perhatian karena yang berpindah bukan sekadar simpatisan, melainkan sejumlah orang yang mengaku sebelumnya memiliki KTA PSI dan aktif dalam struktur pengorganisasian di tingkat wilayah.


Pengakuan mengenai kekecewaan terhadap internal partai, persoalan perubahan posisi dari Korcam menjadi Kordus, hingga pilihan terhadap figur politik tertentu menjadi rangkaian alasan yang perlu dilihat secara utuh.


Di sisi lain, tudingan mengenai adanya perlakuan tidak adil tersebut merupakan versi dari pihak yang menyatakan pindah. Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan dari pengurus PSI Gunungkidul mengenai tudingan tersebut.


Karena itu, publik masih menunggu penjelasan dari PSI Gunungkidul: apakah perpindahan sejumlah kader ini murni persoalan ketidakpuasan personal, persoalan tata kelola organisasi, atau merupakan bagian dari dinamika politik menuju kontestasi berikutnya?


Yang jelas, perpindahan sejumlah pemegang KTA PSI ke NasDem kini menjadi sinyal baru dalam peta politik Gunungkidul. Perpindahan kader tersebut bisa jadi bukan sekadar pergantian warna seragam, tetapi juga cerminan bagaimana loyalitas politik dibentuk, dipertahankan, dan pada akhirnya berubah ketika kader merasa tidak lagi menemukan ruang di rumah politik sebelumnya.




(Redaksi)