Kundha Kabudayan Gunungkidul Gelar Jamasan Tosan Aji 2026 di 10 Lokasi, Lestarikan Warisan Budaya Adiluhung

GUNUNGKIDUL, DIY | wartajawatengah.com – Kundha Kabudayan Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar kegiatan Jamasan Tosan Aji Tahun 2026 sebagai upaya melestarikan warisan budaya adiluhung. Kegiatan tersebut berlangsung di Pendopo Kundha Kabudayan Gunungkidul, Senin (13/7/2026), dan menjadi bagian dari rangkaian jamasan yang dilaksanakan di 10 lokasi berbeda di wilayah Kabupaten Gunungkidul.


Kepala Dinas Kundha Kabudayan Kabupaten Gunungkidul, Agung Danarta, S.Sos., M.S.E, menjelaskan, bahwa pelaksanaan Jamasan Tosan Aji tahun ini diawali di Bangsal Sewokoprojo pada Kamis (9/7/2026), yang dihadiri langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih. Selanjutnya, kegiatan kedua digelar di Kantor Kundha Kabudayan Gunungkidul pada Senin (13/7/2026).


Rangkaian kegiatan kemudian akan berlanjut ke sejumlah wilayah lain, di antaranya Kalurahan Jerukwudel (Kapanewon Girisubo), Kalurahan Dadapayu (Kapanewon Semanu), Kalurahan Ngawu (Kapanewon Playen), hingga Kalurahan Kemadang (Kapanewon Tanjungsari). Seluruh agenda Jamasan Tosan Aji dijadwalkan berlangsung hingga 25 Juli 2026.


Agung Danarta mengatakan, penyelenggaraan Jamasan Tosan Aji merupakan agenda rutin tahunan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam rangka menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah.


"Kegiatan Jamasan Tosan Aji ini merupakan agenda rutin tahunan sebagai bentuk pelestarian budaya yang berpedoman pada Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan serta Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Kebudayaan Daerah," jelas Agung Danarta.


Ia menambahkan, jamasan bukan sekadar tradisi membersihkan benda pusaka, melainkan memiliki nilai filosofis yang sangat penting bagi masyarakat Jawa.


"Tosan Aji seperti keris, tombak, maupun pedang bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi simbol jati diri, kearifan lokal, dan spiritualitas masyarakat. Tradisi ini mengajarkan penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa," ujarnya.


Menurut Agung, melalui pelaksanaan Jamasan Tosan Aji di berbagai wilayah, pemerintah berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang mengenal dan mencintai warisan budaya daerah.


"Harapan kami, masyarakat tidak hanya menjaga benda-benda pusaka sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya sehingga tradisi ini tetap lestari dan diwariskan kepada generasi mendatang," pungkasnya.


Pelaksanaan Jamasan Tosan Aji 2026 menjadi salah satu agenda budaya penting di Gunungkidul yang tidak hanya mempertahankan tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan budaya sebagai bagian dari identitas dan kekayaan bangsa Indonesia.




(Red/pupung)