SPPG Jatisari Klarifikasi Dugaan Keracunan MBG di Jatisrono, Aktivitas Dihentikan Sementara

WONOGIRI, JATENG || wartajawatengah.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait peristiwa dugaan keracunan massal yang dialami ratusan siswa dari sejumlah sekolah. Insiden tersebut diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan pada Jumat dan Sabtu pekan lalu.


Pemilik SPPG Jatisari, Arianto, menegaskan bahwa seluruh proses pengolahan hingga pendistribusian MBG telah dijalankan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku. Meski demikian, pihaknya tetap melakukan penelusuran menyeluruh bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonogiri untuk memastikan sumber munculnya gejala mual, sakit perut, dan diare pada para siswa.


Arianto menjelaskan, laporan awal terkait dugaan keracunan baru diterimanya pada Minggu siang (11/1/2026). Padahal, menu MBG yang disalurkan pada Jumat (9/1/2026) berupa mi ayam, bakso, pangsit, sayur sawi, serta saus kemasan, dan pada Sabtu (10/1/2026) berupa menu kering berupa roti, susu, dan buah, disebut berjalan tanpa kendala.


“Saat pendistribusian, tidak ada laporan masalah. Semua berjalan normal,” ujarnya saat memberikan keterangan, Rabu malam (14/1/2026).


Ia menambahkan, sampel makanan telah disimpan sesuai ketentuan, baik di dalam showcase selama 2x24 jam maupun di suhu ruang selama 1x24 jam. Aktivitas pembersihan dapur juga dilakukan secara rutin oleh petugas kebersihan pada Minggu pagi sebelum operasional kembali berjalan.


Laporan dugaan keracunan mulai mencuat setelah muncul keluhan dari siswa SDN 2 Kutolawas, disertai beredarnya foto kemasan susu yang diduga telah melewati masa kedaluwarsa. Menyikapi hal tersebut, pihak SPPG langsung melakukan pengecekan silang ke seluruh sekolah yang menjadi sasaran distribusi MBG.


Hasil pemeriksaan terhadap stok susu yang tersisa di dapur SPPG menunjukkan seluruh produk masih dalam masa layak konsumsi. Arianto menduga adanya kekeliruan persepsi akibat cetakan tanggal kedaluwarsa yang kurang jelas pada kemasan.


“Angka pada kemasan berupa titik-titik. Bisa saja angka 6 terbaca seperti 5, sehingga dikira tahun 2025. Kalau susu kedaluwarsa, seharusnya rasanya sudah kecut,” jelasnya.


SPPG Jatisari bersama petugas puskesmas kemudian melakukan pengecekan langsung ke lima sekolah, yakni SDN 2 Pandeyan, SDN 3 Pandeyan, SDN 2 Tasikhargo, SDN 2 Kutolawas, dan MTs Al-Amanah. Dari hasil pendataan internal, jumlah siswa yang mengalami diare tercatat sebanyak 94 anak. Seluruhnya dalam kondisi stabil dan tidak ada yang menjalani rawat inap, sementara empat siswa sempat memeriksakan diri ke dokter.


Terkait perbedaan data dengan Dinkes Wonogiri yang mencatat sebanyak 206 siswa mengalami gejala keracunan, Arianto menyebut kemungkinan adanya laporan susulan dari sekolah lain yang masuk secara bertahap.


Sebagai langkah antisipasi, Badan Gizi Nasional (BGN) telah meminta SPPG Jatisari menghentikan sementara seluruh aktivitas operasional hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar.


“Mulai Kamis (15/1/2026) kami menghentikan sementara layanan sambil menunggu hasil uji laboratorium,” pungkas Arianto.


Sebelumnya, peristiwa dugaan keracunan massal ini sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua siswa, menyusul ratusan anak dilaporkan mengalami gejala serupa usai mengonsumsi menu MBG di wilayah Kecamatan Jatisrono.




(Red/giyarto)