GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com — Tanah Jawa sejak lama dikenal sebagai bumi yang teduh, tempat nilai-nilai kerukunan dan kesantunan tumbuh dalam setiap laku hidup masyarakatnya. Senyum ramah dan tutur sapa yang lembut menjadi nafas keseharian. Namun di balik harmoni itu, tersimpan sisi lain yang tak kasat mata—sebuah jagad sunyi yang menyimpan kisah-kisah kelam penuh misteri.
Dalam lembaran cerita lama yang berembus dari generasi ke generasi, dikenal sebuah istilah yang mengguncang batin: Santet Segoro Pitu, sebuah kepercayaan tentang kiriman kekuatan gaib yang diyakini bersumber dari tujuh samudera—tempat di mana gelombang tak hanya membawa air, tetapi juga dendam, amarah, dan energi gelap yang tak terucap.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, santet bukan sekadar mitos, melainkan bayang-bayang nyata yang hidup dalam cerita rakyat. Ia hadir sebagai simbol dari sisi tergelap manusia—ketika iri hati dan ambisi berubah menjadi kekuatan penghancur yang tak terlihat.
Kisah mencekam tersebut kini diangkat ke layar lebar melalui film “Santet Segoro Pitu” garapan sutradara Tommy Dewo. Film ini mengisahkan teror yang menyelimuti sebuah keluarga di wilayah Semarang, Jawa Tengah, pada tahun 1983—masa ketika batas antara dunia nyata dan gaib terasa begitu tipis.
Cerita bermula dari sebuah paket misterius yang tiba tanpa nama pengirim. Paket itu diterima oleh Sucipto, ayah dari Ardi. Tak ada yang mencurigakan pada awalnya, hingga keheningan rumah berubah menjadi bisikan-bisikan ganjil yang merambat dari sudut ke sudut. Seolah ada suara dari dunia lain yang memanggil, menyeret penghuni rumah ke dalam pusaran ketakutan.
Sejak saat itu, satu per satu anggota keluarga mulai mengalami gangguan yang tak dapat dijelaskan. Tubuh melemah tanpa sebab, mimpi buruk datang tanpa jeda, dan bayangan gelap seakan mengintai di setiap langkah. Ardi bersama adiknya, Syifa, perlahan menyadari bahwa mereka bukan sekadar menghadapi penyakit, melainkan sebuah kiriman yang lahir dari niat jahat.
Dalam upaya menyelamatkan keluarganya, Ardi menelusuri jejak masa lalu—membuka luka lama yang ternyata berakar dari persaingan dan dendam. Film ini menggambarkan bagaimana praktik santet pada masa lampau kerap dijadikan senjata tersembunyi untuk menjatuhkan lawan, terutama dalam persaingan ekonomi dan perdagangan.
Kisah ini menjadi cermin bahwa ketika hati dikuasai iri dan ambisi, manusia dapat tergelincir ke jalan gelap yang melampaui nalar. Santet bukan hanya tentang kekuatan gaib, tetapi juga tentang rapuhnya nurani yang kehilangan cahaya.
Dibintangi oleh Sara Wijayanto, Christian Sugiono, Ari Irham, serta Sandrinna Michelle, film ini menghadirkan nuansa horor yang tidak hanya menakutkan secara visual, tetapi juga menggugah sisi batin penonton.
Lebih dari sekadar cerita seram, “Santet Segoro Pitu” adalah puisi kelam tentang manusia—tentang dendam yang tak selesai, tentang doa yang berubah arah, dan tentang gelombang tak kasat mata yang suatu saat bisa kembali, mengetuk pintu siapa saja yang lengah.
(Red/pp.budaya)

Social Plugin