Nyadran Gunung Gambar Perkuat Kolaborasi Budaya, Bupati Gunungkidul Sambut Kehadiran Gusti Bhre

GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com – Upacara adat Nyadran Gunung Gambar yang digelar di Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (14/5/2026), menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi budaya antara wilayah Yogyakarta dan Pura Mangkunegaran Surakarta.


Acara adat yang rutin digelar masyarakat setempat tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, serta KGPAA Mangkunegara X atau Gusti Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo. Kehadiran dua tokoh tersebut dinilai menjadi simbol eratnya hubungan sejarah dan budaya yang selama ini terjalin antara Gunungkidul dan Mangkunegaran.


Dalam sambutannya, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengaku baru pertama kali bertemu secara langsung dengan Gusti Bhre. Ia menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas kehadiran pemimpin Pura Mangkunegaran tersebut dalam tradisi adat yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi masyarakat Gunungkidul.


Menurut Bupati Endah, Gunung Gambar bukan sekadar lokasi wisata sejarah, namun memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan KGPAA Mangkunegara I, Raden Mas Said atau yang dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa.


“Berdasarkan sejarah, tempat ini menjadi lokasi Raden Mas Said menyusun strategi perjuangan melawan penjajah. Di Gunung Gambar juga terdapat situs petilasan beliau yang hingga saat ini terus dijaga dan diperingati melalui tradisi Nyadran,” ujar Endah.


Ia menegaskan, kehadiran Gusti Bhre dalam acara tersebut menjadi bentuk kolaborasi budaya yang sangat berharga antara dua wilayah yang sama-sama memiliki akar sejarah kuat di tanah Jawa.


“Ini kolaborasi yang luar biasa antara Mangkunegaran Surakarta dengan wilayah Yogyakarta, khususnya Kabupaten Gunungkidul. Saya mengucapkan terima kasih kepada Gusti Bhre atau KGPAA Mangkunegara X yang telah berkenan hadir di Gunung Gambar,” imbuhnya.


Sementara itu, KGPAA Mangkunegara X atau Gusti Bhre mengatakan bahwa Nyadran Gunung Gambar merupakan ruang pertemuan antara sejarah panjang dan kekayaan budaya masyarakat yang harus terus dijaga bersama.


Menurutnya, situs bersejarah Gunung Gambar memiliki makna penting karena menjadi bagian dari perjalanan perjuangan leluhur yang patut dikenang oleh generasi muda.


“Di sini kita melihat bagaimana sejarah bertemu dengan budaya yang telah hidup dan diwariskan masyarakat selama bertahun-tahun. Saya berharap kolaborasi ini dapat terus terjalin, sehingga Mangkunegaran juga bisa ikut berkontribusi dalam memajukan masyarakat melalui kebudayaan,” kata Gusti Bhre.


Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Gunungkidul atas antusiasme dalam menjaga tradisi leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.


“Terima kasih kepada masyarakat dan Ibu Bupati atas sambutan yang luar biasa. Semoga acara ini terus berjalan sukses dan membawa keberkahan bagi semua,” pungkasnya.


Tradisi Nyadran Gunung Gambar sendiri menjadi agenda budaya tahunan yang tidak hanya sarat nilai spiritual dan sejarah, tetapi juga diharapkan mampu mendorong pelestarian budaya sekaligus pengembangan potensi wisata heritage di Kabupaten Gunungkidul.




(Red/Pupung)