BPBD Gunungkidul Siapkan 1.500 Tangki Air Bersih, Krisis Kekeringan Mulai Meluas di Wilayah Selatan

GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com – Dampak musim kemarau mulai dirasakan di berbagai wilayah Kabupaten Gunungkidul. Memasuki akhir Juli 2026, permohonan bantuan air bersih dari sejumlah kalurahan terus meningkat seiring menyusutnya debit sumber air, terutama di kawasan karst bagian selatan.


Mengantisipasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul telah menyiapkan sekitar 1.500 tangki air bersih atau setara 4 juta liter air untuk mendukung penanganan kekeringan selama musim kemarau.


Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan peningkatan permintaan dropping air merupakan kondisi yang telah diperkirakan setiap memasuki puncak musim kemarau.


"Saat ini kuota dropping yang sudah kami keluarkan baru sekitar 20 persen. Penyaluran dilakukan berdasarkan permohonan resmi dari pemerintah kalurahan melalui kapanewon. Lokasi yang sudah menerima bantuan akan terus kami pantau untuk menentukan kapan perlu dilakukan dropping berikutnya," ujar Purwono, Minggu (26/7/2026).


Menurut Purwono, distribusi air bersih dilakukan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Dengan asumsi kebutuhan air sekitar 60 hingga 70 liter per orang per hari, satu tangki berkapasitas 5.000–6.000 liter yang disalurkan ke bak penampungan komunal diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan warga selama kurang lebih satu pekan.


"Jika pasokan di bak komunal mulai habis, kami akan kembali melakukan dropping agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi," tambahnya.


Saat ini, wilayah Kapanewon Tepus dan Kapanewon Panggang menjadi daerah yang mulai mengalami krisis air bersih. Karakteristik kawasan karst di bagian selatan Gunungkidul yang minim sumber air permukaan menjadikan wilayah tersebut paling rentan terdampak kekeringan setiap musim kemarau.


Pada tahap awal penanganan, bantuan air bersih diprioritaskan menggunakan anggaran yang dimiliki masing-masing kapanewon. Hingga saat ini, 12 dari 18 kapanewon di Kabupaten Gunungkidul telah memiliki alokasi anggaran khusus untuk penanganan bencana kekeringan.


Apabila anggaran kapanewon mulai menipis, BPBD akan mengerahkan cadangan tangki air bersih yang telah disiapkan. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga menyiapkan Belanja Tidak Terduga (BTT) serta anggaran sekitar Rp500 juta sebagai langkah antisipasi apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.


Selain fokus pada penanganan darurat, BPBD juga mulai menyiapkan solusi jangka panjang. Petugas bersama pemerintah kalurahan, dukuh, dan ketua RT melakukan pemantauan potensi sumber air di Padukuhan Bonbon, Kapanewon Semin.


Berbeda dengan wilayah selatan, beberapa mata air di kawasan utara Gunungkidul masih tetap mengalir meski musim kemarau berlangsung. Salah satu mata air yang ditemukan berada di tengah lahan pertanian dengan jarak sekitar dua hingga tiga kilometer dari permukiman warga.


Sumber air tersebut direncanakan menjadi sumber air baku melalui pembangunan jaringan perpipaan menuju kawasan permukiman. Program ini diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat serta mengurangi ketergantungan terhadap bantuan dropping air pada musim kemarau.


BPBD Gunungkidul memastikan akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan selama musim kemarau berlangsung. Distribusi air bersih akan kembali dilakukan setiap kali cadangan air di bak-bak komunal mulai menipis, sehingga kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat terpenuhi dan risiko krisis air bersih dapat diminimalkan.



 (Red/pupung)