Ticker

6/recent/ticker-posts
Slide 1 Slide 2

Misteri Masjid Tiban Di Pracimantoro Menyimpan Kitab Kuno Tidak Bisa Difoto




Wonogiri(Wartajawatengah.com)-Masjid tiban

Tersimpan kitab kuno yang berada di wilayah

Dusun Pakem,Desa Sumberagung,Kecamatan

Pracimantoro,Kabupaten Wonogiri,Jumat

(29/03/2024).


Adanya sebuah Masjid unik yang konon usianya sudah mencapai 400 tahun,di dalam Masjid

tersebut,tersimpan kitab kuno yang konon tak bisa difoto.

Masjid tersebut bernama Sabiilul Muttaqin atau masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan Masjid Tiban Gunung Cilik. Lokasinya berada di Dusun Pakem, Desa Sumberagung, Kecamatan Pracimantoro Wonogiri.


Diberi nama Masjid Tiban Gunung Cilik karena masjid itu berada di pucuk bukit kecil yang berlokasi di tengah-tengah Dusun Pakem. Masyarakat menyebut bukit kecil itu dengan arti bahasa Jawa Gunung Cilik.


Takmir Masjid Sabiilul Muttaqin Sutomo mengatakan ,keberadaan Masjid Tiban Gunung Cilik diyakini sudah ada sejak 400 tahun lalu, sekitar tahun 1600-an. Saat itu di Pakem baru ada delapan rumah yang posisinya berada di selatan masjid,warga beraktivitas seperti biasanya, bertani dan berternak.


"Dulu serba terisolir, tapi mereka aktivitas biasa. Nah suatu saat warga itu melihat langgar (masjid kecil) yang berada di puncak Gunung Cilik. Setelah didatangi ternyata benar ada masjid. Tiba-tiba ada padahal tidak merasa membangun, tiba-tiba ada langgar," Tutur Sutomo.


Salah satu hal yang dikeramatkan di masjid itu adalah kitab kuno yang dipercaya sudah berusia ratusan tahun. Sutomo menyebut, di masjid ini tersimpan 2 kitab kuno.

Kitab itu disimpan oleh sesepuh desa secara turun-temurun,terakhir sekitar 1989-1990. Sutomo diberi kepercayaan oleh pakdenya untuk membawa kitab itu. Sutomo membawa kitab itu selama 6 tahun. Hingga akhirnya kitab itu disimpan di masjid atas permintaan para sesepuh desa.


Kedua kitab yang tersimpan di masjid itu berwarna kuning dan bertuliskan Arab,kitab itu terbuat dari kulit hewan ditulis menggunakan tangan.


Berdasarkan cerita nenek moyang, kata Sutomo, dulu kitab itu pernah dipinjam oleh Wedana, pemimpin wilayah distrik masa lalu. Saat itu dipinjam siang hari dan dibawa pulang,namun pada malam harinya kitab sudah dikembalikan

lagi. Pasalnya wedana itu diperintahkan seseorang agar segera mengembalikan kitab itu ke tempatnya.


Menurut Sutomo, kitab itu juga pantang difoto menggunakan kamera apapun,pada saat kitab itu dipindahkan dari masjid lama ke masjid baru. Sutomo menyuruh seseorang memfoto dahulu menggunakan ponsel ketika dia membuka lembaran kitab.


Setelah difoto, orang yang menggambil gambar tadi melihat ada sesosok makhluk yang pergi ke rumahnya,setelah itu bayi atau anak kecil yang ada di rumah itu menangis.


"Nah saat itu kami bisa menyimpulkan jika kitab ini tidak boleh difoto, karena setelah foto itu dihapus, bayi itu diam dan tidak menangis lagi. Ada beberapa orang yang nekat memfoto tapi juga terjadi kejadian tak wajar," jelas Sutomo.


Sutomo menuturkan, buku itu tidak bisa difotokopi, pernah ada orang pingin fotokopi,

namun hasilnya fotokopiannya hitam tidak jelas. Selain itu mesin fotokopinya juga rusak.


"Banyak orang-orang pintar yang menyuruh saya membuktikan kekuatan kitab itu dengan berbagai cara. Namun saya tidak mau,Ya intinya tidak semua orang mengalami hal tak wajar, hanya sebagian kecil saja," Pungkas Sutomo.




(Red/Pupung)

Posting Komentar

0 Komentar