GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com – Stigma negatif yang selama ini melekat pada anak punk perlahan dipatahkan oleh sekelompok pemuda di Kalangan, Ngipak, Karangmojo, Gunungkidul. Melalui gerakan bertajuk Petani Punk Gunungkidul, mereka justru tampil sebagai pelopor pertanian organik sekaligus penggerak regenerasi petani muda.
Komunitas ini mengembangkan sistem pertanian ramah lingkungan tanpa menggunakan pupuk maupun pestisida berbahan kimia. Selain berorientasi pada ketahanan pangan, hasil panen mereka juga dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Perwakilan Petani Punk Gunungkidul, SiBagz, mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh dinamika sebelum akhirnya kembali ke kampung halaman dan menekuni dunia pertanian.
Berawal dari perantauan sejak 2004 dan berbagai pekerjaan yang dijalani, SiBagz memutuskan pulang ke Gunungkidul pada 2015. Dua tahun kemudian, ia menikah dan menetap di wilayah Kalangan.
Awal mula perubahan terjadi pada 2018, ketika ia bersama rekan-rekannya sesama anak punk duduk di pinggir sawah dan menyadari minimnya regenerasi petani. Dari situlah muncul kesadaran untuk ikut terjun langsung ke sektor pertanian.
Dengan tekad kuat, SiBagz bahkan nekat menggadaikan sertifikat tanah orang tuanya senilai Rp25 juta sebagai modal awal bertani. Bersama 15 rekannya, ia mulai menggarap lahan seluas 1.500 meter persegi, meski tanpa pengalaman yang memadai.
Proses belajar yang penuh tantangan tidak menyurutkan semangat mereka.
Pendampingan dari kolega serta inovasi dalam membuat pupuk dan pestisida organik menjadi titik balik keberhasilan komunitas ini. Mereka memanfaatkan bahan alami seperti urin kambing, air leri, hingga empon-empon sebagai alternatif ramah lingkungan.
Hasilnya, panen bawang merah yang mereka lakukan mampu membantu mengangsur utang sekaligus membuktikan bahwa metode organik dapat memberikan hasil nyata.
Seiring waktu, komunitas Petani Punk Gunungkidul terus berkembang. Kini jumlah anggotanya mencapai sekitar 40 orang, dengan 15 di antaranya merupakan warga lokal.
Tak berhenti di situ, pada 2022 SiBagz mulai mengajak para pemuda di Kalangan untuk belajar bertani. Dengan memanfaatkan lahan di sekitar area pemakaman, mereka berhasil mengembangkan budidaya cabai menggunakan sekitar 1.500 polybag.
Gerakan ini mulai menunjukkan dampak signifikan, di mana semakin banyak generasi muda yang tertarik kembali ke sektor pertanian—sebuah langkah penting dalam menjaga keberlanjutan pangan di daerah.
SiBagz menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar bertani, melainkan upaya mengubah pola pikir generasi muda.
“Kami ingin menghapus stigma negatif anak punk. Kami bisa berkarya, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi petani di tengah ancaman berkurangnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
“Tujuan kami jelas, agar anak muda mengenal dan mencintai pertanian. Jangan sampai tanah kita dikuasai investor, sementara generasi lokal hanya jadi penonton,” ujarnya.
Semangat Petani Punk Gunungkidul menjadi bukti bahwa perubahan bisa datang dari siapa saja, termasuk dari kelompok yang selama ini kerap dipandang sebelah mata. Dengan kerja nyata, mereka berhasil mengubah stigma menjadi inspirasi.
(Red/pupung)

Social Plugin