GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com — Di tengah hamparan karst yang sunyi dan langit malam yang kerap memikat, Kabupaten Gunungkidul kembali dihadapkan pada realitas yang tak bisa lagi diselimuti kabut mitos. Fenomena “pulung gantung” yang sejak lama dipercaya sebagai pertanda kematian tragis, kini beriringan dengan meningkatnya angka bunuh diri dengan cara gantung diri—sebuah kondisi yang memantik keprihatinan serius dari berbagai kalangan.
Cerita tentang cahaya misterius yang melintas di langit, merah kekuningan dengan ekor menjuntai, masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Namun di balik narasi turun-temurun itu, tersimpan persoalan nyata yang jauh lebih kompleks: krisis kesehatan mental yang belum tertangani secara menyeluruh.
Sejumlah pemerhati sosial menilai, kuatnya kepercayaan terhadap pulung gantung secara tidak langsung membentuk cara pandang masyarakat terhadap peristiwa bunuh diri. Dalam beberapa kasus, tindakan tragis tersebut dianggap sebagai takdir atau bagian dari “tanda alam”, sehingga mengaburkan faktor-faktor mendasar seperti depresi, tekanan ekonomi, kesepian, hingga persoalan keluarga.
Fenomena ini diperparah dengan minimnya literasi kesehatan mental di tingkat masyarakat. Banyak individu yang mengalami gangguan psikologis memilih memendam beban sendiri karena takut stigma. Mereka khawatir dicap lemah, bahkan dikaitkan dengan hal-hal mistis, sehingga enggan mencari bantuan profesional.
Selain itu, paparan cerita bunuh diri yang berulang—baik melalui cerita lisan maupun pemberitaan—berpotensi memicu apa yang dikenal sebagai efek Werther, yakni kecenderungan meniru tindakan serupa. Dalam konteks lokal, mitos pulung gantung dapat memperkuat sugesti tersebut, terutama bagi mereka yang berada dalam kondisi mental rentan.
“Ini bukan lagi sekadar cerita budaya, tetapi sudah menjadi alarm sosial. Kita harus berani menggeser cara pandang dari mistis ke pendekatan ilmiah dan kemanusiaan,” ungkap seorang pemerhati kesehatan mental di Gunungkidul.
Pemerintah daerah pun didorong untuk mengambil langkah konkret dan berkelanjutan. Edukasi publik tentang kesehatan mental dinilai harus diperluas hingga ke tingkat desa, disertai penyediaan layanan konseling yang mudah diakses dan terjangkau. Tak kalah penting, membangun ruang aman agar masyarakat berani berbicara tanpa rasa takut atau stigma.
Pendekatan berbasis komunitas juga dinilai krusial. Peran keluarga, tokoh masyarakat, hingga relawan lokal menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dini gejala depresi dan memberikan dukungan emosional bagi mereka yang membutuhkan.
Misteri pulung gantung mungkin akan tetap menjadi bagian dari warisan budaya Gunungkidul. Namun di tengah meningkatnya angka bunuh diri, masyarakat dituntut untuk tidak lagi berhenti pada tafsir mitos semata.
Di balik cahaya yang konon melintas di langit itu, ada pesan yang jauh lebih mendesak: bahwa setiap nyawa yang hilang adalah jeritan sunyi yang membutuhkan empati, pemahaman, dan tindakan nyata—bukan sekadar kepercayaan yang diwariskan tanpa penjelasan.
(Red/pupung)

Social Plugin