Kalurahan Melikan Kembangkan Peternakan Terpadu, Limbah Kambing Disulap Jadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomi

GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com — Pemerintah Kalurahan Melikan, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, terus mendorong penguatan sektor ketahanan pangan melalui program peternakan terpadu berbasis dana keistimewaan dan dana desa tahun 2025. Program tersebut tidak hanya berfokus pada budidaya ternak, tetapi juga mengembangkan pengolahan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.


Lurah Kalurahan Melikan, Agus Sumarno, A.Md, menjelaskan bahwa program ini mencakup pengadaan ternak kambing lengkap dengan kandang dan fasilitas pendukung. Seiring perkembangannya, peternakan kambing dan domba di wilayah tersebut kini telah memasuki tahap pengolahan limbah kotoran ternak (kohe) menjadi pupuk kompos organik.


“Sejak 2025, kami mulai mengolah limbah kotoran kambing dan domba menjadi pupuk organik. Prosesnya dimulai dari pengumpulan kohe di penampungan, kemudian diberi campuran MP4 dan dolomit, lalu digiling hingga menjadi tepung. Dalam waktu kurang lebih dua minggu, pupuk organik tersebut sudah siap digunakan,” ujar Agus, Selasa (7/4/2026).


Menurutnya, hasil pupuk organik tersebut kini telah dimanfaatkan oleh kelompok tani setempat untuk mendukung program ketahanan pangan. Bahkan, pemasaran pupuk sudah menjangkau kalurahan sekitar, termasuk Kalurahan Semugih, serta wilayah lain di sekitarnya.


Tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, kegiatan ini juga memiliki nilai edukatif. Kalurahan Melikan kerap menjadi tujuan kunjungan studi banding dari berbagai kalurahan dan institusi pendidikan yang ingin mempelajari pengelolaan peternakan sekaligus pengolahan limbah menjadi produk produktif.


Di sisi lain, program ketahanan pangan yang bersumber dari dana desa juga dikelola secara terstruktur melalui Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal). Sebanyak 20 persen dana desa ditransfer langsung ke rekening BUMKal, kemudian dikembangkan melalui perencanaan bisnis (business plan) yang disepakati dalam musyawarah kalurahan.



Dari hasil perencanaan tersebut, ditetapkan dua sektor usaha utama, yakni peternakan kambing dan budidaya ayam petelur. Hasilnya mulai terlihat, di mana ternak kambing telah berkembang dengan tingkat kelahiran yang cukup baik, sementara usaha ayam petelur mampu memberikan hasil ekonomi yang berkelanjutan.


“Untuk ayam petelur omega, saat ini terdapat sekitar 290 ekor yang setiap hari mampu menghasilkan kurang lebih 15 kilogram telur. Harga jualnya berkisar Rp32.000 hingga Rp34.000 per kilogram, dan hasilnya sudah bisa dinikmati masyarakat sekitar,” jelas Agus.


Program ini dinilai menjadi salah satu model pengembangan ekonomi desa berbasis potensi lokal yang terintegrasi, mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran. Pemerintah Kalurahan Melikan berharap, keberhasilan ini dapat terus dikembangkan serta menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam membangun kemandirian pangan dan ekonomi kalurahan.


“Kami tidak hanya fokus pada peternakan, tetapi juga memastikan limbahnya memiliki nilai tambah. Dengan pengolahan kohe menjadi pupuk organik, kami ingin menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat," pungkasnya.




(Red/pupung)