Bupati Gunungkidul Lepas 361 Jemaah Haji Gunungkidul, Tangis Haru Iringi Keberangkatan ke Tanah Suci

GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com — Suasana haru menyelimuti halaman Masjid Agung Al Ikhlas Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (3/5/2026) pagi. Ratusan keluarga memadati area masjid untuk mengantar kerabat mereka yang akan berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.


Sejak pagi, para calon jemaah haji telah berkumpul di kompleks masjid dengan mengenakan pakaian serba putih. Mereka mengikuti prosesi pelepasan dengan khidmat, sementara keluarga yang mengantar tampak tak kuasa menahan haru.


Pelukan erat, doa, hingga air mata mewarnai momen perpisahan tersebut. Tangis pecah saat satu per satu jemaah berpamitan kepada keluarga sebelum menaiki bus menuju embarkasi.


Kepala Seksi Bina Pelayanan Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama Gunungkidul, Tomi Adi Krisna, mengatakan sebanyak 361 calon jemaah haji asal Gunungkidul tahun ini resmi diberangkatkan melalui embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo.


Ia menjelaskan, para jemaah terbagi dalam empat kelompok terbang (kloter), dengan mayoritas tergabung dalam Kloter 10.


“Rinciannya Kloter 5 sebanyak dua orang, Kloter 6 satu orang, Kloter 10 sebanyak 354 orang, dan Kloter 26 sebanyak empat orang,” ujar Tomi saat ditemui di Kompleks Masjid Agung Al Ikhlas Wonosari, Minggu (3/5/2026).


Menurutnya, khusus jemaah yang tergabung dalam Kloter 10 dijadwalkan tiba di embarkasi YIA Kulon Progo pada pukul 13.00 WIB untuk menjalani pemeriksaan akhir sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi.


“Jemaah haji akan diberangkatkan ke Arab Saudi pada Senin (4/5/2026) menggunakan pesawat nomor penerbangan YIA 10,” jelasnya.


Di antara ratusan calon jemaah tersebut, terdapat kisah yang menarik perhatian. Kartinem Karno, warga Karangmojo, tercatat sebagai jemaah tertua dengan usia 85 tahun. Meski telah lanjut usia, semangatnya untuk menunaikan rukun Islam kelima tetap tinggi.


Dengan pendampingan petugas serta dukungan keluarga, Kartinem tampak tegar mengikuti seluruh proses pemberangkatan.

Sementara itu, jemaah termuda tahun ini adalah Mutiara Ashlihati Faizatussabila, warga Wonosari, yang masih berusia 17 tahun.


Perbedaan usia yang mencolok itu mencerminkan besarnya antusiasme masyarakat Gunungkidul untuk menunaikan ibadah haji meski harus menunggu antrean bertahun-tahun.


Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, yang turut hadir dalam prosesi pelepasan, menyampaikan pesan khusus kepada seluruh jemaah agar menjaga kesehatan serta memperkuat kebersamaan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.


Ia juga meminta para jemaah menjaga nama baik daerah dengan menunjukkan sikap disiplin, saling membantu, dan tetap menjunjung nilai kebersamaan.


“Saya mohon para jemaah menjaga kesehatan, tetap solid antar kelompok, serta menunjukkan budi pekerti yang baik selama di Tanah Suci,” kata Bupati Endah.



Bupati Endah juga menitipkan doa kepada para jemaah untuk masyarakat Gunungkidul.


“Saya titip doa agar masyarakat Gunungkidul selalu hidup rukun, sejahtera, dan diberikan kekuatan iman dalam menjalani kehidupan,” lanjutnya.


Saat bus yang mengangkut para jemaah mulai meninggalkan kompleks masjid, lambaian tangan keluarga terus mengiringi perjalanan mereka. Tangis haru kembali pecah, menandai perpisahan sementara yang penuh makna.


Meski berat melepas orang tercinta, keluarga tetap mengikhlaskan keberangkatan tersebut demi memenuhi panggilan suci ke Baitullah, seraya berharap seluruh jemaah diberi kelancaran, keselamatan, dan kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur.





(Red/pupung)