GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com – Tradisi bersih dusun atau Rasulan kembali digelar masyarakat Bohol Blok Utara yang meliputi Padukuhan Ngasem Lor, Ngasem Kidul, Wuru dan Belang, Kalurahan Bohol, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (10/8/2026).
Salah satu rangkaian utama kegiatan tersebut yakni Genduri Tradisi, yang menjadi bagian dari agenda tahunan masyarakat setempat. Tradisi tersebut dilaksanakan setiap bulan Sapar, dengan penentuan hari pelaksanaan yang secara turun-temurun jatuh pada Senin Wage.
Tahun ini, kegiatan mengusung tema “Manunggaling Cipto Roso Lan Karso”, yang memiliki makna menyatukan pikiran, perasaan dan kehendak dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, guyub dan selaras.
Kegiatan genduri diikuti masyarakat serta dihadiri jajaran Pemerintah Kalurahan Bohol, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Dewan Budaya Kapanewon, Dewan Budaya Kabupaten Gunungkidul serta tokoh masyarakat dan unsur budaya lainnya.
Rangkaian Bersih Dusun Bohol Blok Utara berlangsung selama tiga hari, mulai Sabtu hingga Senin. Berbagai kegiatan seni, olahraga dan tradisi masyarakat disuguhkan sebagai bagian dari upaya menjaga kebersamaan sekaligus melestarikan budaya lokal.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pentas tari dari Sanggar Pendopo Suyanto, kemudian dilanjutkan Senam Kreasi Padukuhan Wuru, pementasan hiburan dari Arus Bawah, Genduri Tradisi, serta pementasan Jathilan Turonggo Krido Kawedar.
Sebagai puncak kegiatan, masyarakat dijadwalkan mengikuti pagelaran Wayang Kulit yang menjadi salah satu kesenian tradisional yang masih mendapat tempat di tengah masyarakat Gunungkidul.
Kepala Dinas Kundha Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Agung Danarta, S.Sos., M.S.E., hadir secara langsung menyaksikan pementasan Jathilan Turonggo Krido Kawedar.
Dalam kesempatan tersebut, Agung Danarta menyampaikan bahwa kegiatan budaya seperti Bersih Dusun memiliki nilai penting karena tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertahankan tradisi dan memperkuat kebersamaan warga.
“Kegiatan seperti ini merupakan bagian dari kekayaan budaya yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat. Tradisi harus terus dirawat, karena di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong dan penghormatan terhadap warisan budaya para leluhur,” ujar Agung.
Menurutnya, keberlangsungan tradisi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda. Kesenian seperti jathilan, tari tradisional dan wayang kulit diharapkan tetap berkembang sehingga tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu.
Ia juga mengapresiasi masyarakat Bohol Blok Utara yang secara konsisten melaksanakan kegiatan Bersih Dusun dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Yang paling penting adalah bagaimana budaya ini terus hidup. Anak-anak muda harus diberikan ruang untuk terlibat, belajar, tampil dan mengembangkan kesenian tradisional. Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya dikenang, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, masyarakat tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Selain menjadi momentum untuk melestarikan tradisi, Bersih Dusun juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga dari Ngasem Lor, Ngasem Kidul, Wuru dan Belang.
Melalui tema “Manunggaling Cipto Roso Lan Karso”, masyarakat Bohol Blok Utara membawa pesan bahwa tradisi bukan sekadar ritual tahunan, melainkan menjadi sarana menyatukan pikiran, rasa dan kehendak untuk menjaga kerukunan serta membangun kehidupan masyarakat yang lebih harmonis.
Rangkaian Bersih Dusun tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan lokal masih memiliki ruang kuat di tengah perkembangan zaman, selama masyarakat terus menjaga, melestarikan dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
(Red/Pupung)


Social Plugin