Memuat postingan...

Ladang Mengering, Rumput Menghilang: Warga Tercekik Pakan Ternak dan Air Bersih

GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com – Kemarau panjang kembali menunjukkan dampaknya bagi masyarakat di wilayah selatan Gunungkidul. Bukan hanya persoalan air bersih yang semakin sulit diperoleh, warga yang menggantungkan hidup sebagai petani sekaligus peternak kini harus menghadapi persoalan baru, yaitu sulitnya mendapatkan pakan ternak.


Kondisi tersebut dirasakan warga Padukuhan Ngasem Kidul, Kalurahan Bohol, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (3/10/2026). Ladang yang mengering membuat rumput semakin sulit ditemukan. Bagi warga yang memiliki sapi maupun kambing, kondisi ini menjadi beban tambahan karena ternak tetap membutuhkan pakan setiap hari.


Pimpinan Redaksi Warta Jawa Tengah, Pupung Isbudaya, turun langsung ke lapangan dan berkomunikasi dengan sejumlah warga, di antaranya Suharno, Paryanto, Waji dan Saeam. Dari penuturan warga, untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak, mereka bahkan harus mencari dan membeli rumput hingga wilayah Sragen, Jawa Tengah.


Suharno bersama warga menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan adalah membeli rumput damen atau jerami padi dari petani di Sragen. Satu kendaraan jenis engkel damen dibeli dengan harga sekitar Rp600.000. Namun, setelah ditambah biaya perjalanan dan transportasi, total kebutuhan biaya mencapai sekitar Rp1,3 juta.


Beban tersebut kemudian ditanggung secara bersama-sama oleh sekitar 10 warga. Setelah tiba di Ngasem Kidul, damen dibagi kepada warga dengan cara diikat agar masing-masing peternak memperoleh bagian untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya.


“Untuk mendapatkan pakan saja kami harus mencari sampai Sragen. Damen satu engkel sekitar Rp600 ribu, kemudian biaya transportasi dan perjalanan sehingga total bisa mencapai sekitar Rp1,3 juta. Kami urunan sekitar 10 warga, kemudian damen dibagi,” jelas warga.


Kondisi semakin berat karena persoalan pakan ternak berjalan beriringan dengan krisis air bersih. Warga yang belum memperoleh jaringan air PAM/PDAM harus mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Sebagian warga memilih menyambung aliran air menggunakan selang dan membayar berdasarkan volume atau kubikasi air. Sementara warga lainnya terpaksa membeli air bersih menggunakan tangki berkapasitas sekitar 6.000 liter dengan harga Rp150.000 per tangki.


Bagi masyarakat berpenghasilan terbatas, 

biaya tersebut bukan perkara ringan. Dalam kondisi ladang mengering dan hasil pertanian menurun, pengeluaran untuk membeli pakan ternak dan air bersih justru terus bertambah.



Dampak kemarau panjang bahkan mulai menyentuh aset utama warga. Sejumlah warga mengaku terpaksa menjual sebagian hewan ternaknya untuk mendapatkan uang guna membeli pakan, air bersih, sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga.


Ternak yang selama ini menjadi salah satu tumpuan ekonomi keluarga akhirnya menghadapi posisi dilematis. Dipelihara membutuhkan biaya pakan dan air yang semakin besar, sedangkan jika dijual, warga kehilangan salah satu sumber penghidupan yang selama ini diandalkan.


Kondisi ini menggambarkan bagaimana kemarau panjang tidak hanya membuat tanah menjadi gersang, tetapi juga perlahan menekan kehidupan ekonomi masyarakat pedesaan.


Ladang mengering, rumput menghilang, air semakin sulit, sementara ternak tetap harus diberi makan setiap hari. Warga pun berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah dan dinas terkait.


Warga berharap ada langkah konkret untuk menghadapi dampak kemarau berkepanjangan, terutama dalam pemenuhan air bersih dan bantuan pakan ternak bagi masyarakat yang terdampak.


Bagi warga Ngasem Kidul, kemarau bukan sekadar musim tanpa hujan. Kemarau telah berubah menjadi persoalan sehari-hari: mencari air untuk keluarga dan mencari rumput untuk ternak sama-sama membutuhkan biaya.


Di tengah kondisi tersebut, warga berharap tidak harus menghadapi musim kemarau seorang diri. Bantuan dan kebijakan yang tepat dari pemerintah maupun dinas terkait sangat dibutuhkan agar beban masyarakat tidak semakin berat.




(Redaksi)