GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com – Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggandeng pihak ketiga untuk memproduksi film dokumenter yang mengangkat potensi wisata sejarah dan budaya Petilasan Mbah Bei Citrowongso di Padukuhan Karang, Kalurahan Botodayaan, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (30/5/2026).
Film dokumenter tersebut tidak hanya memperkenalkan situs petilasan sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga menampilkan kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat yang masih terjaga hingga kini.
Dalam alur ceritanya, film menggambarkan seorang wisatawan yang datang dari luar daerah untuk mengunjungi Petilasan Mbah Bei Citrowongso. Sebelum tiba di lokasi petilasan, wisatawan tersebut diajak mengenal aktivitas keseharian warga Padukuhan Karang.
Di perjalanan menuju petilasan, wisatawan bertemu para petani yang hendak berangkat ke ladang. Ia kemudian menyaksikan langsung proses panen singkong dan berdialog dengan petani mengenai berbagai produk olahan yang dapat dihasilkan dari komoditas tersebut. Wisatawan juga diajak melihat proses pengolahan singkong sebagai salah satu potensi ekonomi masyarakat setempat.
Selain sektor pertanian, film ini turut menampilkan kehidupan sosial warga, mulai dari aktivitas bertani, anak-anak yang bermain, hingga kegiatan latihan tari yang menjadi bagian dari pelestarian seni dan budaya lokal.
Setelah berkeliling dusun, wisatawan kemudian diarahkan menuju Petilasan Mbah Bei Citrowongso. Di lokasi tersebut, ia bertemu dengan juru kunci, Cipto Wiyadi, yang menjelaskan sejarah, nilai budaya, serta makna keberadaan petilasan yang selama ini menjadi salah satu warisan budaya masyarakat Rongkop.
Kepala Dukuh Karang, Supardi, mengatakan bahwa pembuatan film dokumenter tersebut bertujuan untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan Petilasan Mbah Bei Citrowongso kepada masyarakat luas.
"Harapannya, melalui dokumenter ini masyarakat dapat lebih mengenal sejarah Petilasan Citrowongso dan potensi budaya yang ada di Padukuhan Karang. Ini menjadi bagian dari upaya pemasaran wisata berbasis sejarah dan budaya," ujarnya saat ditemui awak media.
Menurutnya, pengembangan wisata tidak
hanya berfokus pada situs sejarah semata, tetapi juga mengangkat potensi kehidupan masyarakat, kearifan lokal, seni budaya, hingga hasil pertanian yang menjadi ciri khas wilayah tersebut.
Melalui film dokumenter ini, Dinas Kebudayaan DIY berharap keberadaan Petilasan Mbah Bei Citrowongso semakin dikenal masyarakat, sekaligus mendorong tumbuhnya wisata edukasi berbasis sejarah, budaya, dan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Gunungkidul.
(Red/pupung)

Social Plugin