Padukuhan Belang Matangkan Persiapan Lomba Pengagungan, Semangat Gotong Royong Sambut HUT ke-81 Republik Indonesia

GUNUNGKIDUL, DIY | wartajawatengah.com – Suasana kebersamaan dan semangat gotong royong mulai terasa di Padukuhan Belang, Kalurahan Bohol, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, menjelang pelaksanaan Lomba Pengagungan Padukuhan yang dirangkai dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.


Pengagungan Padukuhan menjadi salah satu agenda strategis Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam memperkuat tata kelola pemerintahan padukuhan, melestarikan budaya, mengembangkan potensi lokal, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui semangat gotong royong.


Pelaksanaan penilaian dijadwalkan berlangsung mulai Senin, 27 Juli 2026 hingga Kamis, 6 Agustus 2026. Sejumlah kalurahan di Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul turut ambil bagian dalam ajang tersebut, di antaranya Kalurahan Botodayaan, Melikan, Karangwuni, Petir, Semugih, Pucanganom, Pringombo, dan Bohol.


Di Padukuhan Belang, berbagai persiapan dilakukan secara intensif. Warga bersama-sama membersihkan lingkungan, mengecat gapura dan pagar, memasang umbul-umbul serta bendera Merah Putih di sepanjang jalan kampung, menata Balai Padukuhan, memperbaiki taman, hingga melengkapi administrasi dan dokumentasi sebagai bagian dari penilaian.


Tak hanya pembenahan fisik, masyarakat juga mempersiapkan penampilan seni dan budaya sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal. Latihan gejog lesung, tari tradisional, hingga prosesi penyambutan tamu menjadi bagian dari kesiapan Padukuhan Belang dalam menyambut tim penilai.


Kepala Wilayah Padukuhan Belang, Riyadi Eko Nugroho, mengatakan bahwa seluruh elemen masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi dalam menyambut Lomba Pengagungan Padukuhan yang bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.


"Pengagungan Padukuhan bukan sekadar perlombaan, melainkan momentum untuk memperkuat semangat gotong royong, kebersamaan, serta kepedulian terhadap lingkungan. Alhamdulillah, seluruh warga Padukuhan Belang, mulai anak-anak, pemuda, ibu-ibu, hingga para sesepuh, ikut terlibat dalam setiap tahapan persiapan," ujar Riyadi.


Menurutnya, semangat kebersamaan menjadi modal utama dalam membangun padukuhan yang maju dan berdaya saing.


"Kami berharap semangat gotong royong ini tidak berhenti setelah penilaian selesai. Nilai kebersamaan harus terus menjadi budaya masyarakat untuk mewujudkan Padukuhan Belang yang bersih, tertib, mandiri, maju, dan tetap menjunjung tinggi budaya serta kearifan lokal," tambahnya.


Pengagungan Padukuhan di Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan implementasi semangat Keistimewaan DIY sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang kemudian dijabarkan melalui Peraturan Daerah Istimewa (Perdais) beserta regulasi turunannya, termasuk pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais) untuk penguatan kelembagaan, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat.



Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap lahir padukuhan-padukuhan yang tidak hanya unggul dalam aspek administrasi dan tata kelola pemerintahan, tetapi juga mampu menjadi contoh dalam menjaga kelestarian budaya, memperkuat pelayanan masyarakat, serta membangun solidaritas sosial.


Mengusung semangat "Sugeng Ambal Warsa Republik Indonesia kaping 81, Nyawiji Mbangun Bumi Wigati", masyarakat Padukuhan Belang optimistis dapat memberikan penampilan terbaik sekaligus menjadikan momentum Pengagungan Padukuhan sebagai penguat persatuan, pelestarian budaya, dan semangat gotong royong dalam membangun Gunungkidul yang semakin maju.




(Redaksi)