Warga Ngricik Sanggah Keras Pemberitaan Penjualan Tangki Air, Tegaskan Hasil Kesepakatan Masyarakat

GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com – Ratusan warga masyarakat Padukuhan Ngricik, Kalurahan Melikan, Kapanewon Rongkop, berkumpul di Balai Padukuhan untuk menyikapi polemik pemberitaan mengenai penjualan unit mobil tangki air bersih yang sebelumnya disebut-sebut sebagai Bantuan Presiden (Banpres) dan dijual oleh oknum Dukuh.


Dalam pertemuan tersebut, warga menyanggah keras anggapan bahwa kendaraan tangki air dijual secara sepihak oleh Dukuh Ngricik, Yulianto. Warga menegaskan bahwa keputusan mengenai kendaraan tersebut merupakan hasil pembahasan dan kesepakatan masyarakat.


Warga juga menyampaikan bahwa hasil penjualan kendaraan tidak dikuasai ataupun digunakan untuk kepentingan pribadi Dukuh. Dana tersebut, menurut keterangan warga, berada dalam pengelolaan masyarakat dan direncanakan untuk kepentingan pengadaan armada pengganti yang dinilai lebih bermanfaat.


Dukuh Ngricik, Yulianto, menjelaskan bahwa kendaraan tangki air tersebut diterima masyarakat sekitar tahun 2017, ketika persoalan kekurangan air bersih masih menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat Gunungkidul.


Menurut Yulianto, pada saat itu sejumlah relawan pendukung Joko Widodo, berangkat dari Wonosari menuju Jakarta untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mengajukan proposal bantuan.


“Pada waktu itu kondisi warga memang mengalami kekurangan air bersih. Relawan mengajukan proposal, kemudian bantuan tersebut direalisasikan,” ujar Yulianto.


Kendaraan hibah yang diterima masyarakat disebut berupa Mitsubishi Canter tahun 2009, kemudian dimanfaatkan sebagai armada pengangkut air bersih.


Dalam pengelolaannya, kendaraan tersebut tidak digunakan secara pribadi oleh Dukuh. Pengelolaan dilakukan melalui masyarakat dan kelompok Padukuhan Banyu Wening.

Selama bertahun-tahun, kendaraan digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga sekaligus menjadi salah satu sumber pendapatan untuk kegiatan masyarakat dan kas padukuhan.


Faktor Usia dan Biaya Perawatan

Seiring berjalannya waktu, kondisi kendaraan yang telah berusia cukup tua mulai mengalami berbagai persoalan. Biaya perawatan semakin besar dan kendaraan disebut semakin sering mengalami kerusakan.


Di sisi lain, kebutuhan warga terhadap armada tangki air juga mengalami perubahan setelah masyarakat memperoleh layanan air bersih melalui jaringan PDAM.


“Sejak 2017 sampai sekarang sudah cukup lama. Kondisi kendaraan juga sudah tua dan sering mengalami kerusakan. Sementara masyarakat, khususnya Padukuhan Ngricik, saat ini sudah menggunakan PDAM,” jelas Yulianto.


Kondisi tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan masyarakat untuk menentukan masa depan kendaraan.

Penjualan Disebut Hasil Kesepakatan Warga

Dari hasil pembahasan masyarakat, muncul kesepakatan untuk menjual unit tangki air dengan nilai sekitar Rp150 juta.


Yulianto menegaskan, penjualan tersebut bukan merupakan keputusan pribadi maupun inisiatif sepihak dirinya sebagai Dukuh.


“Penjualan itu bukan inisiatif pribadi Dukuh. Itu dibahas dan disepakati bersama warga. Rencananya hasil penjualan digunakan untuk mencari unit minibus dan nantinya akan ditambah anggaran agar bisa digunakan sebagai kendaraan angkutan,” katanya.


Menurutnya, kendaraan pengganti tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus menjadi sumber pendapatan baru bagi padukuhan.


Tokoh masyarakat Ngricik, Gunawan, menyatakan mendukung keputusan masyarakat untuk melakukan alih fungsi kendaraan.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan dengan pertimbangan agar aset atau armada yang sudah tidak efektif digunakan sebagai kendaraan tangki dapat dimanfaatkan dalam bentuk kendaraan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.


“Kami sangat mendukung alih fungsi kendaraan agar lebih bermanfaat. Warga juga siap membantu apabila memang harus menambah anggaran untuk pembelian armada yang lebih baik,” ujar Gunawan.


Sementara tokoh masyarakat lainnya, Wasito, mengatakan kesepakatan warga untuk mengubah fungsi kendaraan dari unit tangki menjadi minibus dinilai lebih efektif.


“Kesepakatan warga untuk alih fungsi kendaraan dari unit tangki ke minibus lebih efektif. Tangki air sudah perlu banyak perbaikan karena faktor usia. Dalam rencana warga menginginkan peremajaan armada dan dialihfungsikan agar lebih efektif dan lebih bermanfaat,” kata Wasito.


Yulianto juga membantah keras apabila dirinya disebut sebagai pihak yang secara sepihak menjual kendaraan tersebut.

Ia meminta persoalan tidak hanya dilihat berdasarkan informasi dari satu pihak, tetapi juga diklarifikasi langsung kepada masyarakat yang mengetahui sejarah penerimaan, penggunaan hingga pembahasan mengenai kendaraan tersebut.


“Kalau dikatakan ini inisiatif Dukuh dan dijual oleh Dukuh, itu tidak benar. Silakan turun langsung dan tanyakan kepada warga. Ini merupakan hasil pembahasan dan kesepakatan bersama,” tegasnya.



Pertemuan warga tersebut sekaligus menjadi bentuk klarifikasi masyarakat Padukuhan Ngricik bahwa keputusan mengenai kendaraan tangki air, menurut mereka, bukanlah tindakan sepihak seorang Dukuh.


“Kami siap menjelaskan kepada siapa pun. Yang penting fakta dan prosesnya disampaikan secara utuh, jangan sampai masyarakat menerima informasi yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya,” pungkasnya.


Pertemuan warga tersebut sekaligus menjadi bentuk klarifikasi masyarakat Padukuhan Ngricik bahwa keputusan mengenai kendaraan tangki air, menurut mereka, bukanlah tindakan sepihak seorang Dukuh.



(Redaksi)