Arus Balik Lebaran Mulai Terlihat, Ribuan Perantau Tinggalkan Wonogiri Lewat Terminal Giri Adipura

WONOGIRI, JATENG || wartajawatengah.com — Pergerakan arus balik Lebaran mulai terlihat di wilayah Wonogiri. Ribuan perantau atau kaum boro tercatat mulai kembali ke kota perantauan setelah merayakan Hari Raya Idulfitri di kampung halaman. Lonjakan jumlah penumpang keberangkatan tampak di Terminal Giri Adipura sejak H+1 Lebaran.


Berdasarkan data produksi terminal, peningkatan penumpang mulai terjadi pada Minggu (22/3/2026). Sebanyak 2.332 penumpang bus antarkota antarprovinsi (AKAP) diberangkatkan dari terminal tersebut. Jumlah itu meningkat dua kali lipat dibandingkan hari biasa, bahkan mencapai tiga kali lipat dibandingkan saat arus mudik.


Lonjakan tersebut menjadi indikator awal dimulainya arus balik Lebaran di Kabupaten Wonogiri. Peningkatan arus penumpang kembali terjadi pada Senin (23/3/2026) dengan jumlah keberangkatan mencapai 4.265 penumpang bus AKAP. Angka tersebut menandai arus balik mulai memasuki fase ramai.


Koordinator Terminal Tipe A Giri Adipura Wonogiri, Agus Hasto Purwanto, mengatakan peningkatan jumlah penumpang sudah terasa sejak H+1 dan terus bertambah pada H+2 Lebaran.


“Jumlah penumpang jauh lebih banyak dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ini menunjukkan para perantau mulai kembali ke kota tempat bekerja setelah merayakan Lebaran di kampung halaman,” ujar Agus.


Ia memperkirakan lonjakan penumpang masih akan berlangsung hingga H+6 Lebaran. Meski demikian, puncak arus balik belum dapat dipastikan karena adanya program arus balik gratis yang diselenggarakan sejumlah instansi.


“Dalam beberapa hari ke depan masih ada pemberangkatan rombongan program arus balik gratis dengan tujuan wilayah Jabodetabek,” tambahnya.


Selama periode arus mudik pada 13–21 Maret 2026, tercatat sekitar 33.000 penumpang tiba di Wonogiri menggunakan layanan bus AKAP. Dengan tingginya angka kedatangan tersebut, arus balik diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari mendatang.


Agus menjelaskan, karakteristik perantau asal Wonogiri yang banyak bekerja di sektor informal turut memengaruhi pola arus balik. Para pekerja sektor informal cenderung memiliki fleksibilitas waktu sehingga tidak kembali ke perantauan secara bersamaan. Selain faktor pekerjaan, tradisi hajatan keluarga pasca-Lebaran juga menjadi alasan sebagian perantau menunda jadwal kepulangan.


“Arus balik memang tidak terjadi secara serentak. Ada yang memilih berangkat lebih awal, ada pula yang menunggu hingga seluruh rangkaian acara keluarga selesai,” pungkasnya.




(Red/giyarto)