Memuat postingan...

Bupati Endah Buka Alasan Wabup Joko Parwoto Absen di Hari Jadi ke-196 Gunungkidul, Beberkan Rangkaian Undangan dan Izin

GUNUNGKIDUL, DIY || wartajawatengah.com — Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, memberikan penjelasan terbuka mengenai ketidakhadiran Wakil Bupati Joko Parwoto dalam upacara peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul yang digelar di Alun-alun Wonosari, Rabu (14/10/2026).


Penjelasan tersebut disampaikan Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, kepada awak media pada Kamis (15/10/2026). Menyusul munculnya pertanyaan publik mengenai absennya orang nomor dua, di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam agenda penting daerah yang dihadiri Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X.


Dalam keterangannya, Bupati Gunungkidul yang akrab dipanggil Mbak Endah menyebut, ketidakhadiran Wakil Bupati bukan hanya terjadi saat upacara puncak Hari Jadi Gunungkidul. 

Menurutnya, Joko Parwoto juga tidak hadir dalam sejumlah rangkaian kegiatan sebelumnya, meskipun telah diundang dan, berdasarkan penjelasan Bupati, menyampaikan izin atau keterangan berada di Jakarta.


Bupati Minta Protokol Merekap Rangkaian Daftar Hadir


Mbak Endah menjelaskan, pihaknya telah meminta bagian protokol merekap rangkaian kegiatan serta alasan ketidakhadiran Wakil Bupati. Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan penjelasan, berdasarkan agenda dan komunikasi yang berlangsung selama peringatan Hari Jadi Gunungkidul.


“Setiap agenda memang kita undang. Tadi diminta dari Kabag Protokol untuk merekap apa saja alasan-alasan ketidakhadiran Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, di Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul,” jelas Mbak Endah kepada awak media.


Bupati kemudian memaparkan sejumlah agenda yang menurutnya tidak dihadiri Wakil Bupati, mulai dari pengajian bersama hingga persiapan upacara puncak.


Menurut Mbak Endah, pada agenda pengajian bersama yang dihadiri hampir 1.500 tokoh agama, Wakil Bupati tidak hadir. Bupati menyebut Joko Parwoto menyampaikan izin dan saat itu berada di Jakarta.

Ketidakhadiran tersebut, lebih lanjut Mbak Endah, kembali terjadi pada malam tirakatan. Ia mengatakan Wakil Bupati telah diundang, tetapi masih berada di Jakarta dan menyampaikan izin.


Agenda berikutnya adalah Genduri Agung yang digelar di kawasan Pantai Baron. Menurut Bupati, Wakil Bupati juga menyampaikan izin tidak hadir dalam kegiatan tersebut.

Rangkaian kegiatan Hari Jadi Gunungkidul, kata Mbak Endah, tidak hanya berisi seremoni pemerintahan, tetapi juga kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat.


Salah satunya acara amal yang ditujukan untuk membantu upaya pengentasan kekeringan. Mbak Endah mengatakan, Wakil Bupati telah diberi tahu mengenai agenda tersebut.

Bahkan, menurut penjelasan Bupati, terdapat rencana untuk bernyanyi bersama dirinya dalam acara itu dengan membawakan lagu “Isabella”.


Namun, hingga malam pelaksanaan acara, Joko Parwoto disebut masih berada di Jakarta.

Persoalan ketidakhadiran tersebut berlanjut menjelang upacara puncak Hari Jadi Gunungkidul.


Mbak Endah menjelaskan, Wakil Bupati juga tidak hadir dalam geladi bersih upacara. Ketika mendekati hari pelaksanaan, Bupati mengaku menghubungi Joko Parwoto melalui telepon dan meminta agar Wakil Bupati pulang ke Gunungkidul, untuk menghadiri upacara pada hari H. Namun, menurut Mbak Endah, Joko Parwoto kemudian menyampaikan izin karena sakit gigi.


“Karena mendekati hari H, beliau kami telepon. Wakil Bupati diwajibkan pulang ke Gunungkidul di hari H, tetapi kemudian beliau menyampaikan izin sakit gigi,” ungkapnya.


Pernyataan tersebut menjadi penjelasan Bupati, mengenai alasan yang disampaikan Wakil Bupati menjelang upacara puncak. Adapun kondisi kesehatan dan alasan ketidakhadiran tersebut merupakan keterangan yang disampaikan melalui Bupati, bukan hasil konfirmasi langsung kepada Joko Parwoto dalam keterangan yang tersedia.


Bupati Soroti Kebiasaan Berada di Luar Daerah


Dalam keterangannya, Mbak Endah juga menyinggung pola keberadaan Wakil Bupati di luar daerah. Ia menyebut Joko Parwoto kerap berada di Jakarta pada sejumlah hari kerja maupun akhir pekan.


Bupati turut menjelaskan bahwa, menurut komunikasinya, Wakil Bupati menyampaikan pemberitahuan ketika pulang ke Jakarta pada Sabtu dan Minggu, bukan mengajukan izin sebagaimana yang dipahami dalam sejumlah agenda lainnya.


“Yang jelas, beliau selalu menyampaikan kalau hari Sabtu-Minggu itu beliau tidak minta izin, tetapi memberi tahu, Wakil Bupati pulang ke Jakarta,” kata Mbak Endah.


Pernyataan tersebut menunjukkan adanya persoalan komunikasi dan kehadiran yang menjadi perhatian Bupati. Meski demikian, penilaian mengenai alasan, kewajiban kehadiran pada setiap agenda, serta mekanisme izin perlu ditempatkan sesuai ketentuan dan penjelasan dari pihak-pihak terkait.


Bupati Tegaskan Wakil Bupati Tetap Diundang


Mbak Endah menegaskan, panitia tidak mungkin sengaja melewatkan undangan kepada Wakil Bupati dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul. Menurutnya, undangan telah disampaikan untuk kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan pemerintah daerah.


Ia juga menyebut sejumlah mantan Bupati Gunungkidul turut diundang dalam peringatan tersebut, antara lain Hj. Badingah, Sunaryanto, dan Suharto.

Kehadiran para mantan kepala daerah, menurut Mbak Endah, merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh yang pernah memimpin dan ikut membangun Gunungkidul.


“Dipastikan panitia tidak mungkin sampai tidak mengundang Wakil Bupati,” tegasnya.


Bupati berharap perhatian publik tidak hanya tertuju pada pejabat yang tidak hadir, tetapi juga memberikan apresiasi kepada para tokoh dan peserta yang mengikuti rangkaian kegiatan Hari Jadi.


Ia mengingatkan agar tidak muncul situasi ketika pihak yang hadir justru kurang diapresiasi, sementara ketidakhadiran pejabat malah menjadi bahan pembelaan tanpa melihat keseluruhan rangkaian peristiwa.


“Jangan sampai yang rawuh, yang mengikuti agenda rutin, tidak diapresiasi, kemudian yang tidak datang justru yang dibela,” ujar Mbak Endah.


Mbak Endah menegaskan, peringatan Hari Jadi ke-196 Gunungkidul semestinya menjadi momentum memperkuat kebersamaan, bukan sekadar menjalankan seremoni tahunan.


Ia mengaitkan hal tersebut dengan tema peringatan, yakni “Gayeng Guyub, Waras Ragane, Tentrem Atine”.


Menurutnya, panitia telah menyiapkan peringatan dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk para mantan Bupati dan keluarga mereka. Kehadiran para tokoh senior itu diharapkan menjadi ruang untuk saling bertukar pikiran dan memberikan sumbangsih bagi pembangunan daerah.


Bupati juga menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan tempat bagi Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang hadir dalam peringatan tersebut. Ia menyebut momentum kehadiran Sultan sebagai kesempatan untuk menyelenggarakan peringatan dengan sebaik-baiknya.


Dalam konteks itu, Mbak Endah berharap semangat kebersamaan tidak berhenti pada slogan, melainkan tercermin dalam partisipasi dan komunikasi seluruh unsur pemerintahan.


Bupati Sebut Ketidakhadiran Bukan karena Tidak Diundang


Pada bagian akhir keterangannya, Endah meminta awak media meluruskan informasi bahwa ketidakhadiran Wakil Bupati bukan disebabkan oleh tidak adanya undangan dari pemerintah daerah.


Menurutnya, berbagai agenda yang bersifat undangan maupun penugasan telah disampaikan kepada Joko Parwoto. Bupati juga menyinggung kebiasaan Wakil Bupati meneruskan disposisi kepada perangkat daerah untuk menghadiri kegiatan tertentu.


Namun, Mbak Endah menyebut terdapat pengecualian pada agenda paripurna, yang menurut keterangannya tidak dapat diwakilkan oleh dinas untuk menempati posisi Wakil Bupati.


Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang disampaikan Bupati bukan semata-mata mengenai absennya Wakil Bupati dalam satu upacara, melainkan juga menyangkut rangkaian agenda, komunikasi, dan pelaksanaan tugas dalam hubungan kerja pemerintahan daerah.


Meski demikian, untuk memperoleh gambaran yang utuh, penjelasan langsung dari Joko Parwoto tetap diperlukan, khususnya mengenai alasan ketidakhadiran dalam setiap agenda, status izin atau pemberitahuan yang disampaikan, serta pandangannya terhadap keterangan Bupati.


Peringatan Hari Jadi ke-196 Gunungkidul pun menyisakan perhatian publik terhadap kehadiran pejabat daerah. Di tengah semangat mengenang sejarah dan membangun masa depan Bumi Handayani, transparansi, komunikasi, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas pemerintahan menjadi hal penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.



(Redaksi)